Selasa, 06 Juli 2010

SENI PATUNG MODERN INDONESIA: Gejala Pertumbuhan dan Perkembangannya

Seni patung adalah salah satu dari perwujudan sculpture disamping relief. Dalam Ensiclopedia Britanica (1968:vol 20) dijelaskan bahwa; “Sculpture may be broadly defined as the art of representing observed or imagined objects in solid materials and in three dimension. There are two generals types: 1. Statuary, in which figures are shown in the round. 2. Relief, in which figures project from a grounds”. Dari kutipan di atas dinyatakan bahwa sculpture itu adalah karya seni yang dapat diamati dalam ujud tiga dimensi (trimatra). Ada dua tipe yang termasuk sculpture yaitu; (1) Patung, yang dapat diamati dari segala sisi, (2) Relief, motifnya menonjol dari sebuah bidang datar (flat background). Selanjutnya, Hal yang sama juga disampaikan oleh (Richardson, 1980:353) bahwa; “patung dapat dilihat dari berbagai arah (freestanding statues) dan berbeda dengan relief yang tidak dapat dilihat dari berbagai arah”. Kemudian Muchtar (1985:3) menjelaskan bahwa: Seni patung terwujud dalam bentuk tiga dimensional. Dimensi ketiga itulah yang senantiasa menjadi garapan pematung, yaitu ‘kedalaman’ bentuk. Pada seni patung, bentuk disebabkan karena ada volime, padat atau hampa. Ia dapat dilihat dari segala sudut. Keadaan ini membuat seni patung memiliki serba muka (multi surface): muka-belakang-samping-atas-bawah, atau dapat pula dikatakan, semua adalah muka, semua adalah belakang, semua adalah samping, semua adalah atas, semua adalah bawah.

Sedangakan penggunaan kata “modern” dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai takaran waktu yang dapat diukur dalam satuannya, atau/dan terkait dengan takaran suatu fenomena di suatu tempat yang bisa dibedakan dengan konsep-konsep sebelumnya. Menurut Read (1964:11-12) dalam bukunya A Concise History of Modern Sculpture menjelaskan; “istilah ‘modern’ telah digunakan berabad-abad untuk menyatakan suatu gaya yang telah memutuskan diri dari tradisi, dan mencari bentuk-bentuk yang sesuai dengan rasa dan akal suatu abad baru”. Menurut Soedarso Sp. (2000:4) bahwa: Satu syarat yang masih dituntut oleh seni modern yang bahkan merupakan ciri khasnya, ialah “kreativitas”. Dari sebuah perkataan ini tercantum beberapa sifat yang merupaka gejala-gejalanya. Oleh karena itu untuk menghindarkan istilah ‘modern’ yang bermuka banyak itu ada yang menamai seni modern tersebut dengan istilah “seni kreatif”.

Sulit memang mengambil pengertian “seni patung modern” kalau dihubungkan dengan takaran waktu dan fenomena yang memutuskan diri dari mata rantai tradisi. Hal ini menurut Soedarso Sp. (2000:2), bahwa;istilah “modern” tidak selalu dihubungkan dengan waktu. Sarah Newmeyer misalnya, walaupun terasa agak absurd, menulis dalam bukunya bahwa seni modern itu boleh jadi berupa gambar bison yang digoreskan 20.000 tahun yang lalu dan boleh jadi juga karya Picasso yang diselesaikan pagi ini”. Dari pendapat ini jelaslah bahwa ia menggunakan istilah modern tersebut tidak dalam hubungannya dengan kronologi melainkan untuk dimaksudkan untuk menamai sesuatu kelompok karya yang memiliki sifat tertentu. Maka sifat-sifat tertentu itulah yang harus dicari; apa sesungguhnya yang dapat dipandang sebagai ciri khas seni modern sehingga dengan mudah akan dapat dikenali mana yang bisa digolongkan dalam seni modern dan mana yang tidak.

Walaupun sulit, di dasari oleh beberapa pendapat seperti yang telah disampaikan di atas, maka yang dimaksudkan dengan seni patung modern dalam tulisan ini adalah karya seni yang dapat diamati dalam bentuk tiga dimensi (trimatra), dan terkait dengan suatu takaran fenomena yang memutuskan diri dari mata rantai tradisi dan semata-mata didorong oleh ekspresi serta didukung dengan berbagai faktor terbentuknya proses daya kreatif seniman untuk mengungkapkan perasaan melalui bentuk tiga dimensinya.

Ada dua kata kunci dalam pengerti seni patung modern seperti yang telah disampaikan di atas, yaitu kata ‘bentuk’ dan kata ‘kreatif’. kata bentuk sebagai kata kunci pertama pada pengertian seni patung modern ini, menurut (But Muchtar dalam Soedarso Sp. et al., 1992:23) menjelaaskan bahwa “bentuk pada seni patung merupakan perwujudan seni rupa yang paling kongktir dapat diterima oleh indera manusia; bentuk patung adalah utuh, dan tidak ada bagian yang tidak dapat dilihat oleh idera mata, tidak ada bagian sekecil apapun dari patung yang luput atau tersembunyi”. Lebih lajut, seni patung sebagai anak cabang dari seni, menurut (Read dalam Soedarso Sp., 2000:1) mempertegas bahwa; secara sederhana seni dapat didefinisikan sebagai usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenagkan. Bentuk yang sedemikian itu memusatkan kesadaran keindahan kita dan rasa indah ini terpenuhi bila kita bisa menemukan kesatuan yang harmoni dalam hubungan bentuk-bentuk dari kesadaran persesi kita.

Sedangkan pengertian kata “kreatif adalah proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru” Hurlock dalam Munandar (1988:2-5). Berdasarkan pengertian kata kreatif sebagai kata kunci kedua tesebut, melalui daya kreatifnya, seorang pematung senantiasa mencari dan mewujudkan bentuk, dan melalui bentuk itu pulalah penikmat dan pengamat diantar untuk mengerti, atau lebih tepatnya untuk merasakan apa yang “dibungkus” oleh bentuk itu sendiri.

Pertumbuhan dan Perkembangan

Ditinjau dari pertumbuhan da perkembangan corak rupa seni patung modern, melalui proses kreatif seniman, pada awalnya terjadi pergeseran dari realis yang menyalin bentuk secara objektif menjadi penyederhanaan bentuk, bahkan dalam perjalanan gaya seni patung muncul abstrak dan seterusnya. Seorang seniman patung mulai mengungkapkan image yang tumbuh dalam masyarakat lingkungan seperti; cinta, keretakan, kematian, kelahiran, kemakmuran, kemiskinan dan mungkin beribu-ribu gejala lainnya dalam kehidupan dan masyarakat serta ribuan gejala gejala fisik lainnya seperti; bulat,bulatan yang teritis, persegi, bidang, ruang, melengkung, lonjong dan gejala fisik lainnya. Di samping itu, penuangan bentuk yang merujuk pada kaidah religi, teknologi, sosial atau politik, fantasi semata, dan yang lainnya.

Sejauh itu jangkauan imajinasi, semakin banyak ide dan kosep yang disodorkan tentang seni patung dalam waktu singkat abat ini yang ditandai pula oleh kreativitas yang tak kenal batas. Bentuk patung yang semula diwujudkan melalui proses di pahat (carving), butsir (modeling), dicetak (casting), kemudian dirakit (construction), sampai diberi motor agar bergerak dan berputar. Masih belum puas dengan itu, patung yang dapat bergerak itu masih dilengkapi lagi dengan suara dan penambahan cahaya yang terpancar dalam bentuk yang disebut seni patung modren itu.

Awal seni patung modern dengan muatan kreatif itu dimulai oleh Auguste Rodin (1836-1906). Ia memulai dengan “memugar” seni gereja abad pertengahan dengan tujuan untuk membawanya pada seni pertukangan, sehingga ia terseret oleh perasaan subjektif. Dengan demikian, ia tidak dapat dikatakan telah memeberikan dasar-dasar yang kuat bagi terwujudnya ‘seni baru’. Rodin memang seorang pematung besar, tapi Cezanne sebagai seorang pelukislah yang justru memberikan makna bagi perkembangan seni patung modern selanjutnya (Read,1964:9-10). Hal ini dapat dilihat dari pengaruh Sezanne kepada Picasso, sehingga Picasso tercatat sebagai seniman patung yang membuat loncatan berarti pada perkembangan seni patung modern terutama pada karya awalnya “kepala Wanita” yang kubistis itu (Sudarmaji, Kompas, 12 Agustus 1971). Sehingga patung dalam gaya kubistis dianggap revolusioner dalam melahirkan revolusi selanjutnya, yaitu revolusi Konstruktivis dalam seni patung modern (Read,1964:42).

Sedemikian pesatnya perkembangan daya kreativitas seniman dalam mewujudkan bahasa bentuk yang disebut seni patung modern itu, sehingga semakin sulit untuk dimengerti batasan-batasan yang melekat pada seni patung modern tersebut. Tidak seperti ketentuan dan batasan yang diharuskan dalam membuat patung Aju-aju dan Adu Zatua yang berfungsi sebagai media untuk menghoramati arwah nenek moyang suku Nias, atau suku Asmat membuat patung Mbis yang berbentuk tonggak untuk menghormati anggota keluarga yang meninggal karena perang untuk membela kaumnya, juga ketentuan lainnya seperti harus menonjolan alat kelamin laki-laki pada patung Tadulako di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Dan masih banyak lagi ketentuan dan batasan-batasan lainya untuk pembuatan patung dalam ikatan tradisi dan pada zaman lampau yang jauh berbeda dengan pertumbuhan dan perkembangan dalam mewujudkan karya seni patung modern yang seakan tanpa batas dan aturan.

Di Indonesia, tidak hanya sekedar ada perbedaan yang prinsip antara pembuatan patung dalam ikatan tradisi dan pada zaman lampau itu dengan pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern. Menurut (Jim Supangkat dalam Soedarso Sp. et al., 1992:45) yang menggunakan kata ‘baru’ untuk menyebut seni patung modern Indonesia, menjelaskan bahwa: Ada kesenjangan antara tradisi seni patung tradisional dan seni patung baru yang lahir sekitar tahun 1940. Seni patung baru indonesia-dengan pengecualian seni patung Bali-mengawali pertumbuhannya dengan berbagai perubahan dan penafsiran, tidak menyambung seni patung tradisional mana pun. Seni patung baru ini mengambil perkembangan seni patung modern dunia sebagai rujukan.

Walaupun demikian, (Wiyoso Yudoseputro dalam Atmaja et al., 1991:182) menambahkan bahwa; “bagaimanapun pembedaan antara yang lama dengan yang modern, bagi perkembangna patung modern Indonesia, seperti juga di negara-negara berkembang lain, menjadi ciri khas yang berbeda dengan perkembangan di negara yang berkesinambungan seni patungnya berjalan terus, seperti Eropa dan Amerika”.

Pada perkembangan dan pertumbuhan seni patung modern Indonesia yang berciri khas dan mengambil rujukan seni patung modern dunia itu, ada tiga gejala awal menurut (Jim Supangkat dalam Soedarso Sp. et al., 1992:45) yaitu: “Gejala pertama, akibat percobaan sejumlah pelukis membuat patung sebagai usaha mencari media ekspresi lain. Gejala kedua, membuat patung untuk melayani kebutuhan mendirikan monumen-monumen. Gejala ketiga, akibat perkembangan jurusan seni patung di akademi-akademi seni rupa”.

Gejala pertama, selain seniman Indonesia mematung kembali setelah masa kosong yang sangat lama, seniman patung tersebut adalah para pelukis yang mengalihkan media lukisnya ke media lain dalam berekspresi. Gejala ini di antaranya terlihat pada Affandi yang pada masa pendudukan Jepang tahun 40-an mulai membuat patung-patung self-potrait atau patung potret diri dari tanah liat (Burhan dalam Sumartono et al., 2003:40). Walaupun masih ada gejala yang lebih awal, tepatnya tahun 1943, yaitu Hendrodjasmoro dengan patung “kartini”, tetapi patung tersebut dianggap sebagai prototype lahirnya seni patung modern di Indonesia, karena setelah patung “kartini” tidak ada lagi karya patung yang muncul samapai tiga tahun berikutnya (Kasman KS. dalam Soedarso Sp. et al.,1992:90).

Wujud gejala pertama seni patung modern Indonesia yang dibuat Affandi dengan bahan tanah liat dengan teknik butsir, beberapa kali dipamerkan di Jakarta bersamaan dengan karya lukisnya. Dan kemudian gambaran tentang ungkakapan bahasa bentuk pada gejala pertama tersebut, baik yang menyangkut bahan, teknik dan gaya serta tema maupun dalam pertimbangan estetisnya, dapat dilihat pada pameran patung bersma pertama kali pada tahun 1948 di Yogyakarta (Wiyoso Yudoseputro dalam Atmaja et al, 1991:183).

Pertumbuhan pada gejala kedua ditandai dengan kehadiran patung batu “Jendral Sudirman” tahun 1950 yang dipahat oleh Hendra Gunawan dan samapai saat ini masih dapat dilihat di depan gedung DPRD Yogyakarta. Patung dalam ujud monumen dengan tema-tema perjuangan tersebut, bermunculan pada beberapa kota di Indonesia yang diharapkan dapat menggugah rasa patriotik bangsa. Kehadiran patung dalam bentuk monumen tersebut, berbarengan dengan penguasaan keterampian yang tinggi pada teknik dan pengolahan bahan semen, dan penyempurnaan pencapaian teknik cor perunggu tahun 1960 oleh Edhi Sunarso, (Burhan dalam Sumartono et al., 2003:41).

Pada perkembangan gejala ketiga, ditandai dengan perkembangan pendidikan seni patung di akademi-akademi seni rupa anatara tahun 1960-1970. Khususnya di Akademi Seni Rupa Indonesia ASRI, (kini Fakultas Seni Rupa dan Desain , Institut Seni Idonesia Yogyakarta) dan Departemen Seni Rupa dan Desain Institut Tegnologi Bandung. Pada pertumbuhan ini pemahaman idiom seni patung menjadi lengkap. Dengan demikian bisa dikatakan inilah awal sesungguhnya seni patung baru Indonesia yang terkategorikan seni patung modern (Jim Supangkat dalam Soedarso Sp. et al., 1992:50).

Tercatat beberapa nama pematung yang memiliki andil dalam proses pengembang seni patung modern pada gejala ketiga ini yaitu: Edhi Sunarso, But Muchtar, Gregorius Sidharta dan Rita Widagdo. Dari pematung yang sekaligus pendidik ini muncul generasi seniman patung berikutnya seperti Edith Ratna, Sunaryo, Surya Permana, Untung Mardiyanto, Mon Mudjiman, Pamungkas Gardjito, dan Sumartono yang sebagian besar dari mereka menuangkan bahasa bentuknya dalam gaya abstrak yang tidak lepas dari proses kreativitasnya di akademi. Selain gaya abstrak, masih ada juga pengembangan bentuk-bentuk figur, atau menggabungkan dengan bentuk tradisi seperti pada karya Nyoman Nuarta, Dolorosa Sinaga, G. Sidharta, dan Suparto yang hingga kini masih banyak penerusnya (Burhan dalam Sumartono et al., 2003:41-44).

KEPUSTAKAAN
Muchtar, But. 1985, “Seni Patung dalam Kaitannya dengan Kehidupan Manusia”, Pidato pengukuhan        jabatan   guru besar tetap pada Fakultas Seni Rupa dan Desain Istitut Teknologi Bandung, Sidang Terbuka Senat Institut Teknologi Bandung 19 Oktober 1985.
Munandar, Utami SC. 1988, Pengertian dan Ruang Lingkup Kreativitas, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Read, Hebert. 1964, A Concise History of Modern Sculpture, Frederick A. Praeger, Publishers, New York. Washington.
Richardson, John Adkin. 1980, Art: The Way it Is, Prentice Hall Inc, New Jersey.
Soedarso Sp., 2000 Sejarah Perkembangan Seni Rupa Indonesia, CV. Studio Delapan Puluh Enterprise bekerja sama dengan Badan Penerbit ISI Yogyakarta.
_________., But Muchtar, Jim Supangkat, G. Sidharta Soegijo & Kasman KS. 1992, Seni Patung Indonesia, BP ISI Yogyakarta.
Sudarmaji. (12 Agustus 1971), “Seni Patung Modern dan Apresiasi Masyaraat”, Kompas.
Sumartono, M. Agus Burhan, Moelyono, Fx. Harsono, Dolorosa Sinaga, Toeti Heraty Noerhadi, Enin Supriyanto Arahmaiani & Arie Dyanto. 2003, Politik dan Gender, Yayasan Seni Cemeti, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar