Rabu, 12 Mei 2010

SENI PATUNG MODERN SUMATRA BARAT: dalam Perspektif Sosiologis



Erfahmi
Dosen Jurusan Seni Rupa FBSS UNP Padang

The results of the study show that the growth and the development of the modern sculpture of West Sumatra are influenced by various factors such as the existing art educational institutions, governmental institutions, state owned corporations and local government owned corporations, private institutions, artists and their supporting people. The direction of the growth and the development of the modern sculpture of West Sumatra is more likely to serve its social functions as clearly observed in the sculptural work in the form of monuments and other monumental works with their realistic representation of the form copying than those that serve the function as the personal expression of the artists. It is believed that the phenomena is economically influenced by the governmental institutions and the state owned corporation and the local government owned corporation and also the private sector in addition to the supporting people with their political tendency and to establish certain institutional or corporation images of the respective institutions.
Keywords: Modern Sculpture Art, Growth, and Development

PENDAHULUAN
Pertumbuhan senirupa dalam artian seni murni (fine art), katakanlah seni lukis, seni patung, seni grafis dan seni kriya, berada dalam alur perkembangan tersendiri di Sumatra Barat. Menurut Usman (1994:7), bahwa:
Seni rupa murni yang keberadaannya sekarang, dahulu, tepatnya sebelum masuknya sekolah-sekolah governemen, belum dikenal oleh masyarakat Sumatra Barat. Baru setelah kedatangan dua orang tokoh besar seni rupa Sumatera Barat yang merintis jalan ke arah itu, seni rupa murni mulai dikenal masyarakat pada tahun 1920-an. Kedua tokoh itu adalah Wakidi dan M. Syafei.
Wakidi dan M. Syafei memang merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam perkembangan senirupa modern di daerah Sumatra Barat dengan banyak murid dan pengikut-pengikutnya. Di antara murid dan pengikutnya itu, muncul beberapa nama sebagai seniman patung yang ketika itu disebut sebagai seniman patung Sumatra Tengah, seperti Hasan Basri (1920-…), Nurdin (1912-…), Syamsul Bahar (1913-1994), A.A. Navis (1924-…), Ramudin (1922-1995), Anwarsjam (1927-…) dan Dahlan Djas (1929-…) (Saleh, 1957:150). Namun, dari sekian banyak nama yang dapat dijadikan sebagai indikator dan sekaligus tonggak sejarah seniman patung modern di Sumatra Barat, tidaklah banyak karya-karyanya yang dapat ditemukan. Hanya dua karya Ramudin dalam wujud monumen “Pejuang yang Tak Dikenal” yang dibuat tahun 1950 di Padang. Pada tahun 1958, Ramudin kembali membuat sebuah karya monumen yang sarat dengan bentuk simbolik serta tema yang masih bertumpu pada peristiwa kejuangan berjudul “Pahlawan Tak Dikenal”. Karya ini berada di Bukittinggi Sumatra Barat dan diselesaikannya tahun 1963. Selama hampir delapan tahun masa vakumnya, dan sejak tahun 1963, perkembangan penciptaan bidang seni patung yang dimulai oleh Ramudin dengan teknik plastering dan dalam bentuk simbolik yang belum muncul pada daerah lain di Indonesia, seakan tenggelam oleh kesibukannya sebagai seorang penata musik untuk pagelaran tari Hoeryah Adam istrinya.

Sementara itu, pada periode tahun-tahun Revolusi Fisik Kemerdekaan, tahun 1945-1949, sejumlah murid dan pengikut Wakidi dan M. Syafei, juga ikut mendirikan pergerakan kesenian. Menurut Kusnadi & Nyoman Tusan (1978:32), “di Bukittinggi berdiri ‘Seniman Muda Indonesia’ disingkat SEMI yang diketuai Zetka dengan anggauta antara lain A.A. Navis dan Zanain”. Ketika itu, “budayawan A.A. Navis sempat membuat patung potret ayahnya, namun mendapat tantangan dari keluarganya” (Rosa, 2004:11). Dalam hal ini, mungkin terkait dengan medan sosial agama di wilayah Sumatra Barat, yang masih memandang tabu dan menolak ketika mencoba menggelar karya seni patung ketika itu. Dan tidak hanya itu, kalau menoleh lebih jauh lagi ke belakang, setidaknya pada waktu munculnya gerakan revivalisme Islam sejak pergantian abad Ke 18/19, sewaktu pergerakan “Kaum Paderi”, menurut Yakub (1987:29), “tidak sedikit benda-benda kuno dan patung-patung yang dibinasakan dan amat penting bagi penyelidikan dan penulisan sejarah”. Pada gilirannya, hal ini tentu berpengaruh akan pasang-surutnya pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat.

Mengamati lebih lanjut tentang pasang-surut seni patung modern Sumatra Barat, Pada Tahun 1970, Arby Samah kembali ke Sumatra Barat dari rantaunya Yogyakarta dan dipercaya Pemerintah Daerah Kota Padang membuat monumen “Bagindo Azis Can”. Pada tahun 1975, Arby kembali dipercaya membuat patung dalam wujud monumen “Pejuang Revolusi” di Nagari Sungai Buluh kecamatan Batang Anai Kabupaten Padangpariaman Sumatra Barat. Patung-patung untuk kebutuhan monumen yang dibuat Arby dalam gaya realis tesebut, tidak hanya muncul di Kota Padang, tetapi satu persatu juga berdiri di beberapa tempat di Sumatra Barat sampai tahun 1990-an dan bahkan sampai saat ini. Dengan demikian, tampaknya tantangan dari medan sosial masyarakat Sumatra Barat tehadap seni patung seakan mulai berkurang atau mungkin saja terjadi peningkatan apresiasi masyarakat sebagai konsekuensi dari kehadiran lembaga-lemaga pendidikan formal kesenirupaan di Sumtra Barat.

Walaupun demikian, seni patung sebagai alat ekspresi pribadi atau self expression di Sumatra Barat belumlah muncul. Kehadiran Arby Samah menurut Rosa (2004:12), “tidak lagi punya greget seperti ketika masih di Yogyakarta”. Pendapat yang hampir sama, juga disampaikan oleh Hadi (13 September 1996) di Harian Haluan, bahwa: “semenjak dia kembali ke ‘Kampung’ (Sumatera Barat) dan terlibat dengan tugas-tugas rutin kepegawaian dan sosial kemasyarakatan, dari hari ke hari semakin ‘lepas’ dan ‘berjarak’ dengan apa yang telah dicapainya”. Padahal apa yang telah diperoleh Arby ketika ia di Yogyakarta menurut sebuah tulisan Sudarmaji yang dimuat pada Ruang Budaya Harian Kompas (30 Maret 1976); “Di Yogyakarta hanya satu orang yang sudah menunjukan gejala non figuratif ialah Arby Sama…”. Begitu juga dengan apa yang ditulis oleh Holt dalam Soedarsono (2000:341) bahwa:
Di antara mahasiswa-mahasiswa patung yang lain adalah Arby Sama, yang bergerak ke arah yang sangat berbeda. Ia sedang mengadakan eksperimentasi dengan bentuk-bentuk semi-abstrak yang pada waktu itu benar-benar tidak biasa di ASRI dan bagi Yogya secara umum. Walaupun ia tidak dirangsang dan juga tidak diarahkan ke arah ini, dengan jelas tidak ada penolakan yang jelas dari komposisinya.

Mungkin tidak hanya Arby Samah yang mengalami kondisi seperti dikemukakan di atas. Banyak yang lainnya, setelah menimba ilmu seni patung di berbagai perguruan tinggi seni seperti ASRI (ISI) Yogyakarta, ITB, dan di berbagai pergurung tinggi seni lainya, dan kembali ke Sumatra Barat, kondisinyapun hampir sama dengan Arby Samah dan larut dengan tugas-tugas kesehariannya sebagai staf pengajar pada perguruan tinggi yang memiliki program studi senirupa dan di beberapa sekolah menengah bidang kejuruan seni rupa dan kriya serta berbagai propesi lainya yang ada di Sumatra Barat.

Bertolak dari fenomena yang terjadi tentang pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern Sumatra Barat yang telah berjalan lebih dari setengah abad lamanya, menarik untuk dikaji dengan pertanyaan: “Faktor-faktor apa saja dan bagaimana faktor-faktor tersebut menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern Sumara Barat”.

METODOLOGI PENELITIAN
Terkait dengan penelitian yang diberi judul “Seni Patung Modern Sumatra Barat: dalam Perspektif Sosiologis” ini, dapat dikatagorikan ke dalam wadah bingkai penelitian kualitatif, karena penelian ini menekankan pada tata cara alat dan teknik di bidang yang beroriaentasi pada paradigma alamiah seperti yang dijelaskan oleh Guba dan Lingkoln dalam (Moleong,1989:vii). Sehubungan dengan hal ini, Nawawi (1983:209) juga menjelaskan bahwa; “penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau proses menjaring informasi dari kondisi sewajarnya dalam kehidupan suatu objek dan hubungan dengan pemecahan suatu masalah, baik dari sudut pandang teoretis maupun praktis”.

HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini berisikan peringkasan, eksplantasi, dan interpretasi atas temuan dalam proses dan tindakan pengumpulan data. Secara keseluruhan, berdasarkan pertanyaan yang telah diajukan pada penelitian ini, yang nantinya dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Seni Patung Modern Sumatra Barat, 2. Arah Pertumbuhan dan Perkembangan Seni Patung Modern Sumatra Barat.

Tinjauan terhadap Seni patung modern Sumatra Barat, dari waktu-kewaktu tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Kajian terhadap fenomena seni patung tersebut, dibahas dengan teori sosiologi yang dikemukakan oleh Vera L. Zolberg sebagai landasan teori utama dan didukung oleh teori-teori lainnya serta wawancara yang berhubungan dengan permasalahan.

Menurut Zolberg (1990:ix) bahwa: “Scholars have discovered the socially constructed nature of art, cultural institution, artists, and publics. Rather than assume that these complex phenomena art explained by simpel causes, we find it necessary to incorporate heterogeneity, processes of discovery, evalution, history…” Dapat diartikan bahwa: Para sarjana telah menemukan suatu konstruksi seni, yaitu institusi sosial, seniman, dan masyarakat. Asumsi itu dapat diterangkan dengan konsep, bahwa fenomena kesenian yang terjadi demikian dalam keterangannya perlu disatukan dengan kompleksitas penemuan seni, kreasi dari tradisi, evaluasi, dan sejarah. Dengan demikian, pemakaian teori dalam pembahasan ini akan disesuaikan dengan sifat dan karakteristik seni patung modern Sumatra Barat yang diteliti.

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Seni Patung Modern Sumatra Barat
Di antara Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern Sumatra Barat seperti yang akan dibahas dengan kerangka teori seperti yang disampaikan, ketiga faktor utama tersebut berada dalam sistemnya masing-masing dan saling dan terkait antara satu dengan yang lainnya.
Tinjauan terhadap Institusi sosial, adalah faktor penentu dalam perwujudan karya seni, termasuk seni patung Sumatra Barat sampai saat ini. Hal itu terlihat dari peran serta institusi atau lembaga pendidikan dan lemabaga pemerintahan lainnya, badan usaha meilik negara dan daerah (BUMN/BUMD) dan lembaga swasta serta lembaga-lembaga terkait lainya. Peran serta institusi tesebut, tidak terlepas dari tujuan dan kepentingan serta sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Ditinjau dari sisi Institusi pendidikan, yang dimakasudkan di sini berhubungan dengan institusi pendidikan senirupa dan dikelola oleh pemerintah maupun oleh perorangan atau swasta, lembaga tersebut, mempunyai peran penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan seni patung modren di Sumatra Barat. Di antara institusi pendidikan yang memiliki program studi seni rupa yang ada di Sumatra Barat, diawali di ruang Pendidikan INS (Indonesich Nederlandsche School) Kayutanam, Jurusan Seni Rupa FKSS IKIP (sekarang FBSS Universitas Negeri Padang) Padang, SSRI/SMSR (sekarang SMK 4 Padang) dan Jurusan Seni Murni di STSI (sekarang ISI) Padangpanjang.
Tinjauan terhadap peran institusi pendidikan INS Kayutanam, terutama sejak berdiri tahun 1926 dan mencapai puncak kejayaannya tahun1941, lembaga ini mampu menghasilkan seniman patung seperti yang di tunjukkan oleh Ramudin dan rekan-rekannya dengan karya seni patung dalam bentuk monumen (gambar 1 dan 2) . Namun sejak masa penjajahan Jepang selama tiga setengah tahun (1942-1945) hingga zaman perjuangan kemerdekaan Indonesia (1945-1950), lembaga pendikan INS Kayutanam mengalami gangguan dalam proses pembelajarannya. Tiga tahun berikutnya, ketika peristiwa PRRI (1958-1961), kondisi lembaga pendidikan ini semakin parah hingga tertutup oleh hutan dan rimba. Tahun 1967 dibenahi lagi hingga lembaga INS Kayutanam dapat melaksanakan proses pembelajarannya kembali. Sejak tahun 1991 sampai saat ini INS Kayutanam sudah berubah menjadi SMU Plus. Kondisi yang dialami oleh lembaga INS Kayutanam itu, diyakini bukanlah kondisi yang menguntungkan untuk menghasilkan cikal seniman patung yang berkesinambungan dalam perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat. Walaupun demikian, lembaga tersebut telah membuka jalan dan meletakkan kerangka untuk pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat pada tahapan selanjutnya.
Gb. 1


Gb.2

Sementara itu, pada tahun 1963, hadir Jurusan Seni Rupa di FKIP Univesitas Andalas (Unand), sekarang menjadi Jurusan Seni Rupa FBSS Universitas Negeri Padang (UNP), bukanlah lembaga yang semata-mata diharapkan mampu mengasilkan seniman patung dalam artian yang sesungguhnya. Kemampun berkarya dalam seni patung dari lulusan lembaga ini hanya merupakan side effect dari konsekuensi logis dari mata kuliah seni patung yang wajib diikuti oleh mahasiswa selama satu semester, dan dapat dilanjutkan sebagai matakuliah pilihan minat utama selama tiga semester berikutnya. Sehingga lulusan lembaga ini secara mendasar memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar mematung secara realis dan dapat dikembangkan melalui pengembangan diri dengan mengikuti perkembangan seni patung setelah mereka menyelesaikan program studinya. Dan kenyataannya, sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh oleh lulusan Jurusan Seni Rupa UNP tersebut, telah memberi pengaruh terhadap perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat seperti terlihat pada (gambar 3).

Gb.3

Selanjutnya, pada tahun 1965 berdiri institusi pendidikan senirupa SSRI/SMSR (sekarang SMKN 4) dengan lima jurusan, termasuk salah satunya Jurusan Seni Patung. Sejak tahun 1985, Jurusan Seni Patung di sekolah tersebut dijadikan sebagai mata pelajaran minor atau mata pelajaran pilihan. Sejak tahun 1996 sampai saat ini, sesuai dengan Surat Keputusan MPKN Nomor: 70/KU/MPKN/96 tanggal 12 Juli 1996, mata pelajaran seni patung semakin diperkecil porsinya menjadi bagian dari mata pelajaran nirmana ruang. Kondisi yang semula membawa pencerahan terhadap perkembangan seni patung di Sumatra Barat melalui sekolah tersebut, namun pada akhirnya harus menerima kenyataan akan berkurangnnya calon seniman patung yang selayaknya mampu berkembang setelah mereka melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau berkarya dengan mengikuti berbagai perkembangan di bidang seni patung.

Pada tahun 2006, berdiri Jurusan Seni Murni di STSI Padang panjang. Walaupun belum menghasilkan seniman patung, setidaknya sampai saat ini, melalui staf pengajarnya juga telah ikut berkontribusi terhadap pekembangan seni patung modern di Sumatra Barat melalui karya yang diikutsertakan pada setiap kesempatan pameran. Besar harapan pada institusi ini pada masa yang akan datang perkembangan seni petung di Sumatra Barat akan jauh lebih baik.
Selanjutnya peran lembaga pemerintahan sebagai bentuk lembaga yang telah terorganisir secara resmi mempunyai peranan yang signifikan sebagai pelindung maupun fasilitator bagi pertumbuhan dan perkembangan seni patung dan kesenian pada umumnya di Sumatra Barat. Di antara bentuk perhatian dan perlindungan lembaga pemerintah tersebut, baru pada tataran memfasilitasi pembuatan karya patung untuk keperluan monumen yang umumnya dibiayai oleh Pemerintah Daerah TK I dan II. Selain itu, bentuk perlindungan dan perhatian pemerintah Sumatra Barat dalam bidang kesenian, juga telah didirikan lembaga yang dapat dijadikan sebagai mediator dan fasilitator bagi perkembangan seni patung, yaitu UPDT Taman Budaya. Dengan skala perioritasnya yang terbatas. Institusi Taman Budaya ini telah melaksanakan pameran karya-karya seni patung sebagai alat ekspresi pribadi para seniman, yang dapat menjembatani antara seniman dan karyanya dengan masyarakat penikmat dan pengamatnya.

Sementara itu, institusi atau badan usaha milik negara dan daerah serta lembaga swasta, juga telah ikut berpartisipasi dalam perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat. Terutama kontribusinya dalam bentuk sokongan dana untuk pembuatan karya seni patung bagi keperluan monumen dan kaya seni patung monumental lainnya.

Tinjauan dari faktor seniman, adalah faktor penentu yang juga berperan secara langsung terhadap kontinuitas seni patung modern Sumatra Barat. Memperhatikan keberadaan seniman patung modern Sumatra Barat seperti yang ada pada data penelitian, rata-rata mereka memiliki profesi ganda. Selain sebagai seniman patung, mereka juga sebagai guru, staf pengajar perguruan tinggi ataupun pegawai negeri, yang secara nyata tidak semua waktu, fikiran dan tenaga yang dibutuhkan dalam berkarya seni patung dapat digunakan. Seorang yang betul-betul seniman menurut Becker (1984:229), sepenuhnya siap untuk menghasilkan dan sepenuhnya mampu menghasilkan, karya seni yang sesuai dengan aturan. Seniman semacam itu akan sepenuhnya terintegrasi ke dalam dunia seni yang ada. Ia tidak akan menyebabkan masalah untuk siapa pun yang harus bekerjasama dengannya, dan karyanya akan mendapatkan audiens yang besar dan responsif. Sebut seniman semacam itu sebagai para profesional utuh.

Perkembangan seni patung modern Sumatra Barat juga ditunjukkan oleh kelompok-kelompok seniman patung dalam wujud monumen dan wujud monumental lainnya. Karya patung yang di buat oleh seniman yang mengelompok tersebut, pada umumnya dalam bentuk figuratif yang mudah dimengerti oleh orang banyak. Sehingga seni patung tersebut memiliki keterbatasan dalam gaya dan cenderung realis. Dilihat dari bahan atau materi, teknis dan gaya, hampir tidak ada perobahan selama lebih dari lima puluh tahun lamanya sejak kehadiran karya patung Ramudin “Pejuang yang Tak Dikenal” tahun 1950. Sehingga kehadiran seniman yang datang dari luar Sumatra Barat untuk pembuatan patung di taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi yang ditunjukkan M. Hartono seperti (gambar 4), adalah hal yang seharusnya terjadi karena tuntutan kualitas dari patronase yang sudah semakin tinggi apresiasinya dibidang seni patung . Di sisi lain, seniman patung yang mengelompok tersebut, hanya sebagian kecil yang muncul atau ikut berkarya dalam seni patung dengan fungsi personal atau pada bentuk seni patung sebagai alat ekspresi pribadi.

Gb.4

Penelusuran terhadap seniman patung modern Sumatra Barat, secara kuantitas, adalah Nazar Ismail yang menghasilkan karya patung paling banyak, yaitu hampir mencapai seratus lima puluh buah. Semua karya patung Nazar yang terbuat dari bahan baku kayu dan batu kali dengan teknik carving atau pahat, dapat dianggap sebagai fixed idea (mapan) atau dalam gayanya yang khas. Hal ini tentu tidak akan memberikan keuntungan bagi Nazar, karena menurut (Becker, 1984:230), tidak ada dunia seni bisa terus eksis tanpa persediaan orang-orang yang mampu mengubah produk-produk khasnya. Dengan demikian, mungkin Nazar belum sepenuhnya berupaya mengikuti perkembangan seni patung yang terus berlangsung dalam aktivitasnya. Dari pengakuan Nazar, selama berkarya di bidang seni patung, hanya lima karya yang sudah dikoleksi peminatnya dengan imbalan yang belum sepantasnya atau seperti yang diistilahkan Nazar dengan sebutan nilai “pertemanan” (wawancara, 17 Maret 2007).

Masih rendahnya secara kuantitas karya seni patung seperti ditunjukkan Syafwandi, Elvis, dan Nur Salam, adalah sebuah kenyataan lain yang timbul dari propesi ganda dan masalah lain yang dialami oleh seniman patung modern Sumatra Barat. Seperti Syafwandi, setelah menyelesaikan pendidikan Furniture and Sculpture tahun 1996 di Jepang, tidak lebih dari lima buah karya yang dapat diselesaikanya karena ia harus mengikuti program Magister Seni di ITB Badung tahun 1998. Setelah menyelesaikan program tersebut tahun 2001, Syafwandi “membuat jarak” dengan seni patung dan ia disibukkan oleh aktivitas lain yang mungkin memberikan harapan lebih dalam karirnya sebagai staf pengajar di Jurusan Seni Rupa FBSS Universitas Negeri Padang.
Kondisi sebagian wilayah yang belum akrab dengan seni patung, tampaknya membatasi ruang gerak Elvis dalam berkarya seni patung di tempat tugasnya STSI Padangpanjang. Secara mendasar, ia telah memiliki pengetahuan dan keterampilan sebagai seorang yang mampu mengikuti konvensi-konvensi yang berkembang dalam dunia seni patung. Hal ini dapat dilihat dari keinginan yang telah dicapai melalui sekolah menengah dan pergguruan tinggi di bidang seni patung yang pernah diikutinya. Namun ia mengalami keraguan untuk berkarya seni patung dengan bentuk-bentuk figuratif, sehingga Elvis menjadikan benda-benda tradisi yang ada di lingkungan masyarakatnya sebagai sumber penciptaan karyanya. Kondisi semacam itu, tentu menjadikan Elvis membatasi diri dalam menetukan objek karya patungnya yang sekaligus membatasi ruang gerak proses kreatifnya untuk berkarya (wawancara 5 april 2007).

Hal serupa tampaknya juga menjadi masalah bagi Nur Salam dalam berkarya di bidang seni patung. Lulusan diploma III dengan konsentasi seni patung di P3GK Yogyakarta tahun 1989 ini, juga telah memiliki pengetahuan dan keterampilan secara akademik seperti dapat dilihat melalui karyanya. Namun dari hari ke hari, ia juga seakan berjarak dengan seni patung, sehingga tidak banyak karya patung yang dapat dihasilkannya. Menurut pengakuan Nur Salam, di samping hilangnya Jurusan Seni Patung tahun 1984, dan mata pelajaran seni patung hanya bagian dari mata pelajaran nirmana ruang pada kurikulum (SMK Negeri 4 Padang dulu SSRI) di tempat ia mengajar, Salam juga masih merasa ragu dan ingin menelusuri medan sosial agama yang dianggapnya menjadi penghambat pada proses kreatifnya untuk berkarya dalam seni patung (wawancara, 5 April 2007).

Seniman yang mungkin akan membawa pencerahan dalam perkembngan seni patung modern di Sumatra Barat sampai saat ini, adalah Lisa Widiarti. Ia memiliki eksistensi yang cukup memadai dalam aktivitasnya sebagai seniman patung di sela tugas mengajarnya di Jurusan Seni Rupa FBSS Universitas Negeri Padang sejak tahun 1994. Hal itu ditandai Lisa dengan keikutsertaanya dalam pameran seni patung sebanyak dua belas kali sampai saat ini, baik tingkat Daerah maupun tingkal Nasional. Dengan modal pengetahuan, keterampilan dan pengalaman serta upaya mengikuti perkembangan yang terjadi pada wilayah seni patung yang terus berkembang, Lisa berkomitmen untuk terus berkembang, baik untuk dirinya maupun untuk kepentingan tugasnya sebagai staf pengajar dan daerahnya Sumtra Barat yang masih belum berjalan sesuai dengan harapan seniman dan pemerhati seni patung. Diantara komitmen Lisa tersebut, selain aktivitasnya dalam berpameran, pada tanggal 25 Februari 2005 yang lalu, sebuah gagasan Lisa telah jadi kenyataan dengan berdirinya sebuah wadah bagi seniman patung yaitu Asosiasi Pematung Indonesia (API) daerah Sumatra Barat yang baru satu-satunya hadir di luar pulau Jawa sampai saat ini.

Fenomena faktual yang menyemangati Lisa Widiarti untuk terus eksis dalam perkembangan seni patung Sumatra Barat, dijelaskan Lisa tentang yang terjadi pada seniman patung Indonesia seperti Edhi Sunaryo, Gregorius Shidharta Soegio, But Muctar, Sunaryo, Rita Widagdo, Anusapati, Kasman KS., dan seniman patung dengan profesi ganda lainnya. Seniman patung yang juga staf pengajar perguruan tinggi ini, karena ia mengikuti konvensi-konvensi yang berkembang dalam seni patung, mereka tidak kehilangan audiens dan karya mereka diterima oleh banyak peminat dan pengamat yang memberikan imbalan secara ekonomis yang cukup memadai (wawancara, 10 Maret 2007).
Realitas dan Kondisi-kodisi yang dialami oleh seniman patung seperti telah disampaikan di atas, tidak terlepas dari pengaruh lingkungan masyarakat tempat mereka hidup. Dengan demikian, keberadaan seni patung modern di Sumtra Barat, juga tidak dapat dipisahkan dari peran serta masyarakat sebagai faktor pendukungnya.

Tinjauan terhadap faktor masyarakat, adalah sangat berperan sebagai pendukung terhadap pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern Sumatra Barat. Masyarakat Sumatra Barat yang identik dengan sebutan orang Minagkabau itu, menurut Sairin (dalam Zed, 1992:34), “dengan mudah dapat menerima berbagai ide dan benda material dari luar kebudayaannya, selama hal itu tidak mengganggu eksistensi kebudayaan Minangkabau dan kalau boleh unsur baru itu dapat memperkaya kebudayaan Minangkabau itu sendiri”. Dengan demikian, kehadiran seni patung modern di Sumatra Barat yang sudah mencapai lebih dari setengah abad lamanya itu, adalah suatu pertanda bahwa seni patung tesebut bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakatnya.
Walaupun demikian, pada awal pertumbuhan seni patung modern di Sumatra Barat, memang terjadi hambatan karena di sebagaian medan sosial kultural agama pada masyarakatnya masih ada yang tabu dengan kehadiran seni patung tersebut. Namun masyarakat Sumatra Barat yang juga berada dalam institusi budaya, yang menurut (Zolberg, 1990:21) bahwa, berbagai karakteristik dari banyak institusi sosial lain, mereka tidaklah tetap dan statis, tetapi berubah dari waktu mereka dibentuk. Di sisi lain, bahwa perubahan itu inheren dalam masyarakat, juga tercermin dalam logika “tradisional” orang Minangkabau seperti terdapat pada pepatah adat yang mengatakan bahwa: ”sakali aia gadang, sakali tapian barubah” (sekali air bah, tepian dengan sendirinya juga ikut berubah). Kondisi perubahan masyarakat adat Minagkabau sebagai penghuni sebagian besar wilayah Sumatra Barat itulah yang menjadikan seni patung modern dapat tumbuh dan berkembang di tengah masyarakatnya seperti wujudnya yang ada dan dapat dilihat sampai saat ini.

2. Arah Pertumbuhan dan Perkembangan Seni Patung Modern Sumatra Barat
Arah perkembangan seni patung modern Sumatra Barat yang masih cenderung pada fungsi sosialnya ketimbang fungsi personalnya. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan seni patung tersebut, diyakini terletak pada faktor ekonomisnya. Hal itu dapat dilihat dari faktor pendukung dan sekaligus yang mengarahkan, seperti yang dilaksanakan oleh institusi pemerintahan sebagai penyandang dana untuk pembuatan patung dalam wujud monumen. Sehingga seniman memperoleh imbalan secara ekonomis dari hasil karya seni patung yang di buatnya.

Di satu sisi, peran institusi pemerintahan jelas memberikan keuntung secara ekonomis kepada seniman. Di sisi lain, kondisi semacam itu pulalah kiranya yang memungkinkan untuk menentukan arah pekembangan seni patung Sumatra Barat yang cenderung pada fungsi sosialnya dengan wujud monumen tersebut. Baik dalam wujudnya yang bertendensi politis dengan wujud realis dari peristiwa napak tilas perjuangan bangsa tempo dulu dengan cara menyalin bentuk itu, maupun kondisi kesinambungan yang gradual yang kadang kala megalami keterputusan seperti pada awal dan perkembangan seni patung modren di Sumatra Barat.

Semetara peran institusi pemerintah dalam hubungannya dengan perkembangan seni patung dengan fungsi personal atau sebagai alat ekspresi pribadi, sudah tersedia Taman Budaya sebagai institusi yang dapat menjembatani karya seniman patung dengan masyarakat penikmat dan pengamatnya. Namun, Taman Budaya memiliki skala prorioritas yang terbatas dan tidak mungkin digunakan sesuai dengan keinginan seniman karena banyaknya jenis kesenian yang harus ditampilkan dengan sokongan dana pemerintah yang tebatas dan telah ditetapkan. Di samping itu, Taman Budaya bukanlan institusi atau lembaga pemerintahan yang berfungsi sebagai lembaga yang dapat mendistribusikan atau artdialer karya seni patung yang dipamerkan seniman kepada peminat atau audiens. Sementara, “sebagian besar seniman secara memadai tetap berorientasi pada dunia seni untuk memerlukan sistem distribusi yang akan membawa karya jadi ke sebuah audiens, jika bukan untuk dukungan ekonomis (Becker, 1984:97). Dengan demikian, laju percepatan perkembangan seni patung sebagai alat ekspresi pribadi, belumlah sesuai dengan harapan seniman dalam mendapat kompensasi secara ekonomis untuk membayar investasi waktu, bahan dan dana yang mungkin mereka keluarkan dalam berkarya.

Selain institusi pemerintah, institusi atau badan usaha milik negara dan daerah (BUMN/BUMD) juga berperan sebagai faktor yang menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern Sumatra Barat. Dengan kontribusi yang diberikan, juga berupa dukungan dana pembangunan untuk seni patung dalam bentuk monumen dan bentuk monumental lainnya. Sokongan dana ini menurut Becker (1984:105); bertujuan untuk ...membangun citra perusahaan dan oleh karena itu biasanya menjadi sangat konservatif, yang dirancang untuk menghasilkan pengaruh positif pada jumlah besar orang. Dengan demikian, pembuatan karya seni patung juga tidak terlepas dalam bentuk monumen dan bentuk monumental lainnya. Hal itu dapat dilihat seperti patung penghias areal terbuka pabrik, patung penghias kota yang juga cenderung realis yang menyalin bentuk agar mudah difahami oleh orang banyak.

Selain institusi pemerintahan dan BUMN/BUMD yang memungkinkan penentu arah perkembangan dan pertumbuhan seni patung modern Sumatra Barat, peran swasta atau mayarakat juga memliki peran yang cukup menentukan. Secara moril, peran yang ditujukkan adalah telah menerima kehadiran karya seni patung dalam bentuk monumen yang berdiri hampir diseluruh kabupaten dan kota di Sumatra Barat. Dukungan finansial juga telah dilaksanakan oleh masyarakat perantau yang tegabung dalam Gebu Minang (wadah bagi perantau Minangkabau yang berkedudukan di Jakarta). Namun dukungan tersebut juga mengarah pada pembuatan monumen seperti patung Bung Hatta yang terletak di taman Monumen Bung Hatta Bukittinggi (gambar 4). Patung yang bertendensi politis dan dibuat dari bahan perunggu dengan teknik cetak atau casting itu, merupakam wujud realis yang menyalin bentuk dari tokoh proklamator Bung Hatta yang bernegeri asal Sumatra Barat.

SIMPULAN
Pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat, memang berjalan secara gradual dan kadang-kala mengalami keterputusan sehingga tidak berkesinambungan secara baik. Karena sudah berjalan lebih dari setengah abad lamanya, ada terjadi peningkatan pada jumlah karya seni patung dalam wujud monumen dan seni patung monumental lainnya. Peningkatan terhadap jumlah tersebut, tampaknya belumlah diiringi oleh pekembangan bentuk, bahan dan tenik secara memadai. Sementara seni patung sebagai alat ekspresi pribadi, belumlah muncul ke permukaan dalam tampilan yang lebih baik seperti keinginan seniman dan pengamatnya.

Banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat. Di antara faktor yang mempengaruhi tersebut adalah: institusi sosial, seniman dan masyarakat sebagai pendukungnnya. Institusi sosial, adalah diantara faktor penentu dalam perwujudan seni patung Sumatra Barat sampai saat ini. Hal itu terlihat dari peran serta institusi atau lembaga pendidikan seni rupa, lembaga pemerintahan lainnya, badan usaha milik negara dan daerah (BUMN dan BUMD) dan lembaga swasta serta lembaga-lembaga terkait lainya. Peran serta institusi atau lembaga tesebut, tidak terlepas dari tujuan dan kepentingan serta sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Faktor seniman, adalah faktor penentu yang juga berperan secara langsung terhadap kontinuitas dan perkembangan seni patung modern Sumatra Barat. Memperhatikan keberadaan seniman patung tersebut, dapat dikatakan bukanlah sepenuhnya berperan sebagai seorang seniman patung, karena mereka memiliki profesi utama sebagai guru, staf pengajar pergguruan tinggi ataupun sebagai pegawai negeri lainnya. Kondisi yang dialami oleh profesi kesenimanan seperti hal tersebut, diyakini tidak semua waktu, fikiran dan tenaga dapat digunakan untuk berkarya dengan baik. Di samping itu, berbagai faktor lain yang kurang menguntungkan, juga ikut mempengaruhi seniman patung dalam berkarya seperti belum memadainya imbalan investasi yang dikeluarkan oleh seniman, terutama untuk karya seni patung sebagai alat ekspresi pribadi.

Faktor masyarakat, berperan sebagai pendukung terhadap pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern di Sumatra Barat. Pada awal pertumbuhan seni patung tersebut memang terjadi hambatan karena di sebagian medan sosial agama pada masyarakatnya masih ada yang tabu dengan kehadiran seni patung. Namun masyarakat Sumatra Barat yang juga berada dalam institusi budaya yang cenderung berubah dari waktu mereka dibentuk. Sehingga seni patung tersebut menjadi bahagian dari kehidupan mereka, terutama pada seni patung dengan fungsi sosialnya seperti karya patung dalam wujud monumen dan bentuk monumental lainnya.

Selain institusi pemerintah, institusi atau badan usaha milik negara dan daerah, seniman dan masyarakat, juga beperan menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan seni patung modern Sumatra Barat. Hal itu dapat dilihat dari kontribusi yang diberikan berupa dukungan dana dan moril untuk pembangunan seni patung bentuk monumen dan bentuk monumental lainnya biasanya menjadi sangat konservatif dan dirancang untuk mudah difahami oleh orang banyak. Dengan demikian, wujud seni patung yang dihasilkan juga cenderung realis atau menyalin bentuk.

DAFTAR RUJUKAN
Becker, Howard S. 1984. Art Worlds,. California: University   of California         Press .
Holt, Claire. 1967. Art in Indonesia: Continuities end Change atau Melacak Jejak perkembangan Seni di Indonesia, (terjemahan R.M. Soedarsono. 2000). Bandung: MSPI.
Kusnadi & Nyoman Tusan. 1978. Seni Rupa Indonesia dan Pembinaannya. Jakarta: Proyek Pembinaan Kesenian Departeman P dan K.
Moleong, Lexy J. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung: Remaja Karya CV.
Nawawi, Hadari H. 1983. Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Saleh, Boejang Ps. et al. 1956. Almanak Seni 1957. Djakarta: Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional.
Usman, Ibenzani. 1994. “Seni Rupa, Ilmu dan Pendidikan”. Pidato Pengukuhan Sebagai Guru Besar Pendidikan dalam bidang Pendidikan Seni Rupa dan Kerajinan pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP Padang.
Yakub, Dt. B. Nurdin. 1987. Minangkabau Tanah Pusaka; Sejarah Minangkabau Buku Pertama. Bukittinggi: Pustaka Indonesia,
Zed, Mestika.. et al. 1992. Perubahan Sosial Di Minangkabau: Implikasi Kelembagaan dalam Pembangunan Sumatra Barat. Padang: Pusat Studi Pembangunan dan Perubahan Sosial Budaya Universitas Andalas Padang bekerjasama dengan Caesar Offset.
Zolberg, Vera L. 1990. Constructing a Sociology of The Art.New York: Cambridge University Press.
Katalog, Koran dan Wawancara
Elvis. 40 th. Wawancara tanggal 5 april 2007 di kampus STSI Padangpanjang Sumatra Barat
Hadi, Wisran. 1996. 30 September. “Arby Samah ‘Membangkit Batang Terendam’ untuk Dipatungkannya Kembali”, Haluan.
Lisa Widiarti. 43 th. Wawancara tanggal 27 Maret 2007 di Perumahan Podok Indah Permai Blok A/18 Tunggul Hitam Padang Sumatra Barat.
Rosa, Ady. 2004.“Ranah Rupa dalam Jelajah Ruang”, Katalog pameran seni patung Jelajah Ruang, 1-6 September 2004, Taman Budaya Sumatra Barat.
Sudarmaji. 1976. 30 Maret. “Pertumbuhan Seni Patung Di Indonesia”, Kompas.
Nazar Ismail. 55 th. Wawancara tanggal 17 Maret 2007 di rumah kediamannya jalan Kampuang Durian No. 23 Padang.
Nur Salam. 50 th. Wawancara tanggal 5 April 2007 di SSRI/SMSR (SMK Negeri 4 Padang).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar